Cerita Pendek



SIMPLICITY

“Lepaskan! Lepakskan aku! Kalian ini siapa sebenarnya? Mengapa kalian membawaku kesini? Lepaskan!” cercaku dengan pertanyaan yang memenuhi benakku.
Mereka tiba-tiba menutup sebagian wajahku menggunakan kain. Dan saat aku terbangun aku sudah berada dalam hutan. Dan akupun tak taudimana.
“Haiii... Halo... Apakah ada orang di sini?”
“Haloo”. Aku terus berteriak namun tetap sama yang kudapatkan, tidak ada yang menjawab. Jelas saja, aku ini dalam hutan mana mungkin ada orang disini.
Aku terus berjalan menelusuri hutan ini, namun semakin aku berjalan aku rasa semakin menjauh pula aku berada di hutan ini. Dan tak kunjung menemukan jalan keluar.
“Ayaah tolong aku ayah! aku dimana? Bundaa tolong aku!”. Aku merengek menangis karena aku sudah tidak tau harus pergi kemana lagi.
Tak lama aku langsung menghapus butiran air yang membasahi pipiku setelah aku mengingat bahwa ayah selalu mengajarkan untuk selalu rendah hati, tidak putus asa dengan keadaan yang kita alami dan untuk terus berusaha karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Itu adalah perkataan ayah yang selalu memotivasi ku.
Karena hari semakin larut aku memilih untuk beristirahat di bawah pohon besar dan aku berharap semoga aku masih bisa terbangun esok.
“Hai.. Bangun! Bangun!” dia menepuk tanganku dengan lembut. Aku terbangun.
“Kau ini siapa? Mengapa kau ada disini?” tanyaku sambil melihat seluruh tubuh ku, dan sekelilingku.
“Sykurlah aku masih dilindungi oleh Tuhan dan masih bisa terbangun dipagi ini”. Kataku dalam hati
“Seharusnya aku yang bertanya, siapa kamu? Dan tenang saja aku baru sampai disini”.
“kamu tidak mengenalku?”
“Ya. Sebenarnya siapa kamu ini? Dan bagaimana bisa kamu berada disini?”
“Aku adalah Shalsa purtri dari kerajaan.....”
“Oh tuan putri, maafkan hamba telah lancang.....”
“Sudahpanggil saja namaku, anggap saja kita sudah berteman lama
“Tapi tuan putri...”
“Sudah. Aku lebih suka di panggil dengan namaku”
“Baiklah tuan... Eh Shalsa” dia mengatakannya dengan terbata-bata.
“Ngomong-ngomong siapa namamu? Dan apakah benar kau tinggal disini?”
“Namaku Pandu.. Sha Iya saya memang tinggal disini”
“Baguslah setidaknya aku sedikit mendapat titik terang”
“Memang bagaimana hingga putri bisa sampai disini?”
“Entahlah. Saat aku sedang di kebun belakang istana, tiba-tiba ada yang manarikku. Dan saat aku bertanya siapa mereka, lalu mereka menutup sebagian wajahku menggunakan kain. Dan saat ku terbangun aku sudah disini.”
“Yasudah lebih baik kamu ikut bersama saya ke rumah”
Aku pergi bersama Pandu menuju rumahnya. Aku benar-benar tidak menyangka ada orang yang tinggal ditengah hutan seperti ini. Selama perjalanan menuju rumahnya, aku banyak berbincang dengan Pandu.
“Apa kau benar-benar tidak mengenaliku?”
“Ya! Aku benar-benar tidak tau kau adalah seorang putri raja. Aku hanya mengetahui di luar sana ada kerajaan dan dia memiliki seorang putri. Namun aku tidak pernah melihatnya secara langsung”
“oohh..”
“Ya wajarlah, selamaaku hidup, aku hanya menghabiskan waktuku disini.”
“hanya berada disini? Mengapa?”
“Iya. Entahlah orang tuaku tidak mengizinkan aku untuk pergi dari sini. Tapi kau tenang saja aku tau jalan untuk menuju kerajaan.”
“Baiklah. Terima kasih sebelumnya.”
“Tak apa. Sekarang kita telah sampai di rumahku. Ya, beginilah keadaanya. Maafkan rumah kami yang berantakan mungkin membuatmu kurang nyaman”
–––––
“Tuan putri? Apakah benar ini tuan putri?”
“Ya ibu, dia adalah putri Shalsa.”
“Bagaimana bisa tuan putri sampai disini?”
“Sepertinya ada yang berniat jahat padanya”
“Mengapa ada orang yang tega berbuat jahat pada tuan putri?”
“Entahlahbu, dia sendiri juga tidak tau.”
––––-
“Silahkan tuan putri. mohonmaklumi keadaan kami ini. ”Kata seorang wanita parubaya yang merupakan ibu dari Pandu.
“Panggil saja namaku. Aku lebih suka di panggil dengan namaku.”
“Tapi tuan putri....”
“sudah tak apa. Tapi aku lebih senang jika kalian memanggil namaku saja”
“Baiklah.”
“Bolehkah aku ikut membersihkan badanku disini? Dan meminjam pakaianmu”
“Tapi putri. Pakaian ku seperti ini. Tidak pantas untuk kau pakai.”
“Tak apa. Pakaian seperti itu terlihat bagus saat kalian memakainya.”
“Kina tolong antarkan putri Shalsa ke kamar belakang, dan tolong siapkan baju untuknya ya.”
“Baik bu.” Balas dia dengan suara lembutnya. Dia berumur lebih muda dariku.
–––––
“Mari putri makan dengan kami. Namun maaf kami hanya memiliki ini.”
“Ya takapa. Ini sudah lebih dari cukup, aku snagatberubtung bisa bertemu kakian di tengah hutan seperti ini.”
Dari mereka aku belajar kesederhanaan. Dengan apa yang aku punya di istana, dan mereka yang sangat sederhana dengan kehidupan sehari-harinya. Aku menikmati makan siangkubersama keluarga sederhana ini. Namun, walaupun kehidupan mereka sederhana aku tetep melihat kebahagiaan dan senyum yang tulus terpancar dari wajah mereka.
“Pandu setelah selesai makan cepat kau antar putri Shalsa pulang ke istana. Pasti Raja dan Ratu sangat mengkhawatirkan putri mereka ini.”
“Tapi bukankah bapa dan ibu tidak mengizinkan aku untuk keluar dari hutan ini? Lalu mengapa sekarang aku diperbolahkan untuk keluar dari sini?”
“Ini sudah saat nyanak kau keluar dari sini, melihat suasana diluar sana”
“Saatnya?”
“Sudah lebih baik sekarang kau bersiap-siap. Raja dan Ratu pasti menunggu putri Shalsa”.
“Baik bu”
–––––
“Ayo Shalsa kita pergi”
“Oiya baik”
“Ibu aku pergi dulu, doakan kami dan semoga aku bisa cepat kembali”
“Iya nak. Hati-hati ya, jaga putri Shalsa baik-baik. Pastikan dia selamat sampai istana”
“Baik bu”
“Daaaaa” Pandu mengangkat tangannya dan melambaikannya kepada bapa, ibu dan adiknya
–––––
Syukurlah perjalananku dengan Pandu berjalan dengan lancar hingga saat kami sudah dekat dengan istana, kami melihat ada prajurit istana yang mungkin mereka juga sedang mencari aku disini. Aku langsung memanggil mereka. Aku, Pandu dan para prajutrit langsung pergi ke istana. Aku pergi dengan menaikkikuda dan begitu juga dengan Pandu.
Tidak lama semenjak kami bertemu saat kami berjalan bersama menuju istana, tiba-tiba ada sekelompok orang bertopeng yang menyerang kearah kami. Mungkin mereka juga yang telah membawaku dan meninggalkanku disini. Aku berpikir mereka itu adalah musuh dari kerajaan ayahku. Yang dendam kepada ayahku dan mereka melampiaskannya padaku.
“Tuan putri sepertinya itu adalah orang yang membenci paduka Raja dan yang telah membawa tuan putri kesini”. Kata salah seorang prajurit. Perkiraanku sepertinya memang benar.
Syukurlah para prajurit dan juga Pandu, mereka bisa mengalahkan orang-orang tersebut. Walaupun ada beberapa prajurit yang terluka dan Pandu yang sedikit terluka di bagian tangannya.Kami segera bergegas pergi ke istana karena takut kejadian seperti tadi terulang kembaliditambah dengan kondisi prajurit dan Pandu yang terluka.
–––––
“Ayah... Bundaaa...” teriakku sambil berlari menuju mereka untuk segera.
“Putri apa kau baik-baik saja?” tanya bunda sambil menatapku dan memegang daguku
“Iya bunda aku baik-baik saja. Untunglah ada Pandu yang menolongku” kataku sambil melihat ke arah Pandu. Ayah dan Bunda lalu mengikuti arah pandangku.
“Iya Ayah, Bunda. Dia adalah orang yang telah menolongku, membawaku kerumahnya dan memberiku makan. Dia tinggal bersama keluarganya di dalam hutan sana selama bertahun-tahun” jelasku.
“Terima kasih karena kau telah menolong putri kesayangan kami dan membawanya kembali ke sini dengan selamat”
“Iya Ayah dia juga yang telah mengantarku kesini, sampai saat diperjalanan kami bertemu dengan para prajurit.”
“Yasudah sekarang kalian obati luka kalian” perintah Ayah kepada para prajurit
“Dan tolong panggilkan seseorang untuk mengobati luka Pandu”
“Tidak paduka terima kasih. Itu tidak perlu, lagi pula saya akan segerauntuk kembali ke rumah
“Tidak. Kau tidak boleh pergi sebelum kau obati lukamu.
“Tapi itu terlalu berlebihan paduka. Saya bisa mengobatinya sendiri di rumah
“Tidak itu tidak berlebihan. Justru saya yang merasa tidak enak kalau kamu tidak mau diobati”
“Baiklah ayo” ajakku.
–––––
“Dia itu sangat baik bunda. Dan aneh nya dia tidak mengenaliku saat pertama dia bertemu denganku.”
“Oiya? Mengapa?”
“Entahlah. Dia bilang kalau dia tidak pernah keluar dari hutan selama dia hidup. Baru kali ini dia keluar dari hutan”
“Lalu bagaimana kehidupan mereka yang jauh dengan permukiman?”
“Walaupun kehidupan mereka sangat sederhana. Namun mereka juga sangat bahagian Bun, aku melihat itu semua saat aku makan siang bersama dengan keluargannya. Mereka sangat bahagia  walaupun kehidupan mereka jauh dari kata sempurna.”
“Ya sepertiitulah kehidupan. Ada yang diatas dan ada yang dibawah. Lalu dengan siapa dia tinggal?”
“Dia tinggal bersama kedua orang tuannya dan juga seorang adik perempuannya Bun. Bun bagaimana kalau kita memperkerjakan Ayah dan Ibu Pandu untuk bekerja disini agar mereka tidak lagi tinggal dihutan itu.”
“Ya boleh saja. Nanti Bunda akan membicarakan itu pada Ayahmu
–––––
Kami menjamu Pandu untuk ikut makan malam bersama kami.
“Bagaimana kejadian itu bisa terjadi?”
“Tak tahu Ayah. Saat kami menuju pulang, tiba-tiba ada sekelompok orang yang menyarang kepada kami. Namun dengan sigap para prajurit dan Pandu melawan mereka. Dan syukurnya kita semua selamat”
“Syukurlah”
“Pandu sebaiknya malam ini kau menginap di sini. Tidak baik jika pergi sekarang lagi pula hari sudah malam, jalan menuju hutan pun gelap.” Bujuk Ayahku
“Tidak apa Paduka biar saya pergi saja malam ini. Sepertinya saya disini semakin merepotkan. Saya semakin merasa tidak enak.”
“Tidak. Kami justru senang. Kami sudah mempersiapkannya untukmu,justru jika kamu menolaknya, kami akan merasa kecewa”
“Tidak paduka bukan begitu maksud saya.”
“Baiklah. Sekarang kau istirahat dan besok kau boleh pergi kembali ke rumahmu”
“Terima kasih paduka”
–––––
Matahari sudah mulai memancarkan cahayanya. Menandakan malam sudah berakhir. Dan pagi ini Pandu akan bergi untuk kembali ke rumahnya.
“Pandu. Jika kau mau. Lebih baik kau bawa keluargamu  ke sini. Ayah mu bisa menjadi prajurit disini, mendengar cerita dari putriku katanya kau mempunyai ilmu beladiri yang hebat, itu pasti ajaran dari ayahmu bukan? Dan kau tenang saja Ibu beserta adikmu juga dapat menetap disini”
“Sekali lagi saya minta maaf Paduka. Mungkin lebih baik kami tetep berada disana. Mungkin ini juga sudah menjadi takdirku untuk menetap di dalam hutan”
“Kau bisa mengubah takdirmu sekarang dengan kau menetap disini. Lebih baik kau bicarakan ini pada keluargamu dahulu. Pintu kami sangat terbuka untukmu kapanpun”
“Terimakasih Paduka. Kau benar-benar pemimpin yang baik”.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Bagian II