Novel Bagian III
Hai Kawan!!!!
Ini dia lanjutan dari novel keciku "Vanila"
Hope you like it!!
Happy Reading:)
VANILA
“Good Morning Vanii” kalimat itu yang pertama Vani dengar saat ia keluar dari tendanya
“Morning Ta. Tumben amat udah bangun” tanya Vani
sambil melihat Genta yang sedang merebus air diatas tumpukan kayu bakar.
“Yee gue mah emang pagi terus bangunnya, mau
bikin minum Van?”
“Boleh deh, emang lo mau bikin apa?”
“Gue sih kopi”
“Gue jangan kopi ya, gabiasa gue minum kopi
pagi-pagi gini. Gue mau susu aja” balas Vani dan langsung membantu Genta.
“Itu kopi gak lo tambahin gula?” tanya Vani saat
melihat Genta mulai menuangkan air rebusan dalam gelas nya.
“Gausah, entar gue sambil liat lo aja, nanti
juga jadi manis kopinya” godaGenta sambil terkekeh kecil.
“Aduh meleleh adek bang” balas Vani dengan
tertawa geli dan disusul oleh suara tawa Genta.
“Hari ini kita ngapain ya?” tanya Vani memulai
pembicaraan.
“Kalo gak salah sih gue denger katanya sekarang tuh
kayak lintas alam gitu deh”
“Wiih seru tuh, gue suka nih klo yang beginian”
“Kalo aku suka kamuuu” goda Genta untuk kedua
kalinya dan malah mendapat cubitan dari Vani. Merekapun kembali tertawa
bersama. Seiring dengan itu, teman-teman merekapun keluar dari tenda dan ikut
bergabung dengan mereka berdua.
Waktu sudah
menunjukkan pukul 08.30 dan mereka akan memulai kegiatan mereka. Benar seperti
yang Genta bicarakan, lintas alam. Seperti lomba-lomba sebelumnya, lomba ini
juga dilakukan pertim. Di dalam perjalanan, setiap tim harus mendapatkan
bendera bertuliskan nama tim mereka yang disimpan pada pos terakhir untuk
disetorkan kepada panitia sebagai bukti bahwa mereka telah selesai melaksanakannya.
Setelah beberapa lama,
tim Genta dan tim Vani telah berhasil menyelesikannya.Vani menjadi tim yang
pertama datang, tim Dio dan Genta menjadi tim ketiga yang datang. Setelah itu
mereka langsungmembersihkan diri masing-masing.
Setelah pelaksanaan shalat
berjamaah, semua murid berkumpul di tempat semula, karena malam ini adalah
malam terakhir bagi mereka berada diperkemahan. Ternyata panitia telah
menyediakan sebuah kejutan bagi para murid SMA Harapan. Panitiaakan
mendatangkan sesuatu yang dapatmenghibur semua yang berada diperkemahan ini.
Semua terlihat menikmati beberapa penampilan
orang didepan, yang menyanyikan beberapa lagu, dan mereka menyaksikan itu
sambil mengelilingi api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka dari angin malam.
Genta menghampiri Vani yang sedang duduk menikmati
sajian musik akustik, dan langsung duduk disebelah kanan Vani.
“Vann” panggil Genta cukup pelan hingga
terdengar seperti bisikan.
“Hmm?” jawab Vani dengam menoleh ke arah Genta.
“Boleh gue jujur sama lo? Untuk kesekian kali
dan untuk membahas persoalan yang sama?” Genta memang sudah berulang kali jujur
soal perasaanya kepada Vani. Namun lagi-lagi dengan alasan tidak mau merusak
hubungan persahabatan mereka, Vani selalu menolak keinginan Genta yang menginginkan
mereka lebih dari seorang teman bahkan sahabat.
“Ta please…”
balas Vani yang sudah tau kemana arah pembicaraan Genta.
“Vani please.
Kasih gue kesempatan!” pinta Genta, dan sekarang mereka menjadiberhadapan.
“Apa kamusadar? Seminggu kemarin gue mencoba
untuk bersikap biasa sama lo, untuk gak peduli dengan apapun urusan lo. Tapi
nyatanya itu justru menyiksa diri gue sendiri Van. Gue gabisa cuek, acuh gitu
sama lo” sambung Genta sambil menggenggamkedua tangan Vani mencoba untuk
meyakinkan. Sedangkan Vani masih dengan tubuh yang kaku dan terdiam dengan
perkataan Genta yang baru saja diucapkannya.
“Van, gue pengen lindungin lo terus, pengen
selalu ada buat lo, pengen jadi orang yang selalu lo cari buat menceritakan
semuanya, apapun itu. Van kenapa lo selalu jadiin persahabatan kita sebagai
alesan buat lo nolak gue?”
“Ta, gue gamau kalo nanti ternyata kita udah gak
berhubungan, hubungan kita malah jadi jauh, dan lupa dengan persahabatan kita
yang udah bertahun-tahun ini. Gue beruntung punya lo dan Dio dari kecil yang
selalu ada buat gue tanpa gue pinta”.
“Gue gak mau itu terjadi dan gue gak akan biarin
itu terjadi. Gue akan terus menjaga hubungan kita. Gue juga gamau jauh dari Lo.
Gue sayang samalo lebih dari sahabat Van. Gue pengen jadi orang yang spesial
buat lo. Gue janji hubungan kita gak akan ngerusakpersahabatangue, lo, dan Dio
Van” Genta kembali mencoba meyakinkan Vani, yang kemudian mengacungkan kelingkingnya
keudara sebagai isyarat bahwa dia akan menepati perkataannya.
“Please
Van” pinta Genta sambil mendekatkan jari kelingkingnya pada Vani
“Genta udah
ngasih jawaban ke gue perihal yang selalu gue takutin kalua gue berhubungan
lebih dari teman dan sahabat sama dia. Dia juga udah janji soal itu. Dan gue
juga gamau menyiksa perasaan Genta dan diri gue sendiri. Gue gabisa bohong
kalaurasa sayang gue sudah menjadi cinta. Dan gue benar-benar jatuh cinta sama
sahabat gue sendiri”Batin Vani.
“Jujur sebenarnya sayang gue ke lo juga udah
jadi cinta, dan gue gak mau nyiksa perasaan kita, dan mungkin ini takdir dari
Tuhan kalau gue jatuh cinta pada sahabat kecil gue sendiri”.
Tak ada kata-kata yang keluar
dari mulut Genta, selain bibirnya yang
menganga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vani dan wajah
yang memancarkan kebahagiaan. Genta masih saja diam terpaku karena perkataan Vani, antara
tidak percaya tapi dia senang mendengar itu. Lega juga karena orang yang dia
sayang mempunyai perasaan yang sama padanya.Detik selanjutnya Vani melanjutkan perkataannya “Tapi lo harus
janji sama gue, kalo persahabatan kita bertiga gak akan terusik degan hubungan
ini”.
“Janji”
Genta semakin yakin mengacungkankelingkingnya. Dan disambut baik oleh kelingking mungil milik Vani.
Dari belakang datang Dio, Tasya, Ita, dan Lala. Mengganggu waktu
Genta dan Fani. “Wayoo lohhh ketauan. Kayaknya bau bau teraktiran nih” goda Dio
pada Genta sambil beberapakali menyenggol siku Genta.
“Wah kalo ini sih harus banget nih” tambah
Lala.
“Iya pokoknya pulang dari sini lo harus
teraktir kita-kita. Ya gak?” timpal Ita.
“Opasti dong, langsung maen ke mall kita nih”
tambah Tasya sembari tertawa.
“Lu tuh ya giliran traktiran aja nomer satu”
balas Genta sambil menoyor kepala Dio. Dio tertawa mendengar omongan Genta yang memang benar adanya.
Tangan Dio terulur untuk memberikan selamat pada Genta. Kemudian uluran tangan
Dio disambut baik oleh Genta.
“Eh ngomong-ngomong selamat ya bro, akhirnyaaaa
jadi juga” ucap Dio penuh ekspresif pada sahabat kecilnya tersebut dengan
berbisik dan merangkul pundak Genta.
“Thanks Bro” balas Genta dengan sumringah.
♡END♡
Terimaksih sudah berkunjung dan meluangkan waktu untuk mampir ke blog saya :)
Semoga kalian suka dengan novel kecilku:)
Dikembangkan lagi aja ka ceritanya. Kalo perlu dibuat buku novel.
BalasHapusLanjutkan terus ka.. ๐๐ผ๐๐ผ๐๐ผ๐๐ผ
Seruu๐
BalasHapusKisah yang menarik firda!! Lanjutkan terus yaa...๐๐
BalasHapusJazakallah dede. Lanjutkan
BalasHapusBagussss ceritanya๐ค
BalasHapusYeayy yang kutunggu
BalasHapusSukaaasukaa lanjutkan
BalasHapusSuka aku suka lanjutin lagii
BalasHapusLanjutkan cugirl ๐ช
BalasHapusMantapp fir akhirnya selesai ๐๐๐
BalasHapusBagus banget๐
BalasHapusLanjutkan terus, jangan di end ;)
BalasHapus